Windyasih's Blog


Sebuah Penelusuran terhadap Pain Pathway

Pengobatan Nyeri : Program Medis Yang Telah Terbukti Untuk Mengakhiri Nyeri Kronik
Oleh Dharma Singh Khalsa, M.D., Cameron Stauth

[Diterjemahkan Oleh Windy Asih, S.Kep., Ners]

Impuls nyeri secara umum memulai perjalanannya dalam sebuah lintasan yang disebut sebagai ‘pain pathway’ ketika anda mengalami suatu injury atau suatu penyakit. Misalnya saja ketika jari anda terpotong (tentu saja tanpa sengaja!).

Pernahkah anda sadari ketika anda tanpa sengaja memotong jari anda, anda akan merasakan sensasi sentuhan sebelum merasakan nyeri yang terjadi karenanya? Hal ini terjadi karena anda memiliki saraf tersendiri untuk menerima rangsang sentuhan dan rangsang nyeri – dan saraf sentuhan mengirim sinyal lebih cepat daripada saraf nyeri. Inilah sebabnya anda merasakan jari anda terpotong sebelum anda merasakan nyeri akibat luka tersebut.

Saraf sentuhan anda menembakkan sinyal kepada otak anda dengan kecepatan 200 mil per jam, sedangkan saraf nyeri anda mengirimkan sinyal relative lebih lambat dari itu. Nyeri akut mengrimkan sinyal ke otak dengan kecepatan 40 mil per jam, dan nyeri kronik berjalam lebih lambat yaitu 3 mil per jam. Perbedaan kecepatan ini terjadi karena saraf sentuhan terinsulasi lebih baik.

Setiapkali anda mencederai jari anda, anda cenderung akan memegang dan meremas atau mengusapnya bukan? Hal tersebut merupakan insting alami. Anda melakukannya karena hal tersebut mengurangi rasa nyeri anda. Alasan mengapa hal tersebut dapat menguranginya adalah karena ketika anda melakukannya, anda mengirimkan sinyal sentuhan melalui pintu masuk nyeri dan sinyal ini berjalan lebih cepat dari sinyal nyeri yang sedang berjalan.   Ketika sinyal nyeri mencapai pintu masuk, pintu masuk nyeri sudah dipenuhi oleh impuls sentuhan dan  sinyal nyeri sangat sulit untuk bisa masuk kedalam.

Jadi sekarang anda telah mengetahui strategi anti nyeri yang sangat baik: berikan system saraf anda input sinyal yang dapat bersaing – terutama yang dapat mengalahkan lajunya sinyal nyeri.

Terdapat banyak sekali cara untuk menciptakan input sinyal yang dapat bersaing selain mengusap-usap area yang sakit. Hal ini juga dapat dilakukan secara biokimia, mekanis, elektrik dan bahkan dengan pikiran! Anda akan segera mengetahui semua strategi yang ada.

Satu pelajaran yang jelas dan dapat diambil dari hal ini adalah : jangan bersikap sok jago dengan mengabaikan nyeri ketika anda terluka. Kejarlah rasa nyeri itu! Kalahkan! Hal itu sangat membuat saya kesal, ketika saya menonton pertandingan baseball dan pemukul terkena bola oleh pelempar dan pemukul tersebut hanya diam saja tidak mengusap bagian yang terluka karena hal itu dapat memberikan rasa senang bagi tim lawan. Hal itu cukup menghibur sisi atlet saya– tetapi tidak sebagai seorang ahli dibidang nyeri. Sebagaimana anda akan segera melihat, bahwa ketika nyeri sudah terjadi, akan sangat sulit untuk menghentikannya. Tetapi, apabila anda segera mengatasinya, nyeri akut, anda dapat mengurangi kemuungkinan nyeri tersebut berkembang menjadi nyeri kronik yang bertahan lama.

Sekarang, mari teruskan perjalanan kita menelusuri pain pathway anda dan temukan berbagai cara lainnya untuk menghentikan rasa nyeri.

Ketika sinyal nyeri anda berlomba-lomba masuk kedalam medulla spinalis, menuju  otak anda, mereka secara otomatis memicu  pelepasan beberapa zat kimia yang membantu mereka berjalan menuju dan melalui otak. Zat-zat kimia ini disebut sebagai neurotransmitter, pengirim pesan biokimia yang membawa sinyal dari satu sel saraf ke sel saraf selanjutnya.  Otak anda, sebagaiman anda ketahui, juga menggunakan neurotransmitter untuk membawa semua pemikiran dan perasaan anda.

Tiga neurotransmitter primer yang membawa sinyal nyeri ke otak adalah zat P, NMDA (n-methyl-d-aspartate), dan glutamat. Dari ketiganya, zat P merupakan yang teraktif dan terpenting. Tanpa ketiga neurotransmitter ini – terutama zat P – sinyal nyeri akan lebih sulit untuk mencapai otak. Tetapi, jika terjadi kelebihan jumlah dari salah satu zat ini, sinyal nyeri dapat lebih cepat dan dengan mudah mencapai otak.

Jadi, sekali lagi, kita mempunyai cara untuk menghentikan rasa nyeri ; dengan cara memanipulasi  jumlah salah satu atau ketiga neurotransmitter tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu caranya adalah dengan cara farmasetikal dan obat-obatan, dan cara lainnya adalah dengan akupuntur. Saat anda mempelajari pain program saya, anda akan mempelajari cara-cara lainnya.

Ini kabar bagus lainnya : tubuh kita, dengan alami, dan dengan pembawaan dari lahir , mempunyai caranya sendiri untuk menjaga neurotransmitter agar tidak berlebihan berada diotak, dan membuat kita merasakan nyeri berlarut-larut. Tubuh memaksa zat-zat kimia itu untuk berjalan melalui sebuah pintu atau gerbang yang berada dekat dibelakang medulla spinalis. Pintu gerbang ini membentuk suatu zat yang memiliki konsistensi seperti agar-agar  dan disebut sebagai substantia gelatinosa dari dorsal horn.

Sehingga kita punya metode lainnya untuk mengontrol nyeri : mendukung fungsi pintu gerbang ini. Hal ini dapat dilakukan dengan mendukung kesehatan dari system saraf secara keseluruhan. Jika system saraf terlalu letih, stress, atau mengalami malnutrisi, pintu gerbang ini akan kehilangan efisiensinya.

Sehingga, apabila system saraf anda berfungsi dengan baik, maka ambang rasa nyeri anda akan semakin tinggi. Ini merupakan satu alasan, sebagai contoh, mengapa anda lebih merasakan nyeri ketika anda sedang mengalami kurang tidur : keadaan kurang tidur menurunkan kemampuan system saraf anda untuk menutup pintu masuk atau gerbang nyeri.

Walaupun demikian, sebagaimanapun pintu gerbang tersebut bekerja dengan baik, beberapa sinyal nyeri akan tetap sampai ke otak. Hal ini alami dan di inginkan, tentu saja, karena tanpa rasa nyeri kita akan selalu terancam bahaya dari suatu cedera.

Saat sinyal nyeri sampai diotak, saat itulah tubuh dan pikiran anda benar-benar berperang melawannya – jika tubuh dan pikiran anda bekerja dengan efisien, dan dalam koordinasi yang tepat satu sama lainnya.

Sejauh ini, anda hanya bermain pertahanan (defense) melawan nyeri. Tetapi ketika otak anda menerima sinyal nyeri yang pertama dan menyadari bahwa tubuh anda sedang melawan musuh kejamnya, otak anda akan memulai perlawanannya (offense). Otak anda melakukan serangan balik!

Di halaman selanjutnya saya akan memberitahu bagaimana cara melakukan serangan balik yang menakutkan.

Serangan balik!

Sinyal nyeri memasuki otak anda di area yang disebut thalamus. Thalamus adalah tempat dimana otak anda mensortir sebagian besar sinyal fisik yang datang. Contohnya, selain berurusan dengan nyeri, thalamus anda juga mengurus hal-hal lain seperti rasa lapar dan haus.

Thalamus mengirim sinyal pesan kepada dua bagian terpenting dari otak anda – korteks, yang melakukan tugas berpikir dan system limbic, yang mengatur emosi-emosi anda.

Saat ini terjadi, otak berpikir dan emosi anda melakukan dialog, dimana mereka membandingkan pesan yang dibawa oleh sinyal nyeri. Mereka mencoba untuk menentukan seberapa serius nyeri tersebut dan bagaimana mengatasinya. Mereka menganalisa seberapa kuat sinyal yang dikirimkan, seberapa sering sinyal itu dikirimkan dan seberapa lama sinyal itu menetap.

Apabila, selama dialog ini berlangsung, korteks dan system limbic anda menentukan bahwa sinyal nyeri yang datang tidak serius, mereka akan memerintahkan tubuh anda untuk tenang dan memerintahkan sistem neurotrasnmiter anda untuk mengeluarkan zat kimia yang menenangkan yang disebut serotonin. Ini menyebabkan saraf yang pertama kali menangkap sinyal untuk berdiam dan juga menyebabkan otot-otot disekitar area yang cedera untuk tenang dan beristirahat. Juga, pembuluh darah anda – yang terkonstriksi oleh alarm – segera berdilatasi. Tubuh anda segera kembali ke keadaan normal. Nyeri akut tersingkirkan dan anda merasa baik atau sehat kembali.

Ketika jari anda terpotong, hal itu terasa sangat sakit, lukanya terlihat dalam, dan banyak sekali darah yang keluar. Korteks dan system limbic anda memindai memori anda dan mereka tidak menyukai apa yang mereka temukan. Memori anda berkata “ini adalah luka terparah yang pernah anda alami, rasanya sangat sakit dan jika anda tidak berhati-hati jari anda akan mengalami infeksi.” Ketika korteks dan system limbic anda mendengar hal ini, mereka akan mulai berteriak “Bahaya!Bahaya! Kita dalam masalah!”

Serangan balik besar dimulai!

Bukannya memberitahu system neurotansmiter anda untuk mengeluarkan neurotransmitter penenang, korteks dan system limbic anda memberi perintah untuk menstimulasi neurotransmitter norepinephrine, yang merupakan suatu bentuk dari adrenalin. Hal ini selalu terjadi ketika tubuh anda sedang diserang. Tiba-tiba anda mulai mengalami gejala klasik dari “fight-or-flight” respon (respon melawan atau menghindar), yang disebut juga   “stress response.” Pembuluh darah anda berkonstriksi, jantung anda berdetak kencang, otot menjadi kaku, dan saraf anda berada dalam keadaan waspada, dimana mereka menunggu masalah lain terjadi lebih lanjut.

Disinilah keadaan dapat menjadi lebih buruk. Inilah saat dimana nyeri kronis dapat terjadi. Jika serangan balik anda tidak berlangsung sebagaimana mestinya, anda dapat berakhir dengan nyeri kronik.  Serangan balik anda haruslah kuat, tetapi tidak tidak terlalu kuat. Tetapi jika tidak cukup kuat atau justru terlalu kuat, akan terjadi gangguan fungsi neurologi yang dapat menyebabkan nyeri kronik.

Satu hal yang harus dilakukan ketika serangan balik akan dilangsungkan adalah menciptakan keseimbangan yang tepat jumlah pembentukan serotonin yang menenangkan dan norepeinephrin yang menstimulasi anda. Ketika anda sedang tegang, tubuh anda membutuhkan serotonin untuk menenangkan diri, dan untuk menutup sebagian dari pintu masuk nyeri diotak otak anda. Sayangnya, semakin anda tegang, semakin banyak pintu atau gerbang nyeri yang terbuka, dan bahkan sulit untuk ditutup kembali.

Segera, nanti, akan saya tunjukkan bagaimana caranya membuat persediaan serotonin dalam tubuh anda sehingga ketika anda membutuhkan anda bisa melakukannya.

Masalah lain yang muncul saat ini, seperti telah disebutkan sebelumnya, adalah sensitisasi dari area yang mengalami cedera. Ketika sinyal nyeri masuk kedalam otak, otak mulai memonitor secara teliti area yang mengalami cedera, melalui system saraf  sebagai bagian dari serangan balik. Saraf-saraf yang berada disekitar area yang mengalami cedera menjadi lebih sensitive. Saraf-saraf tersebut bahkan membawa sinyal nyeri dari stimuli yang pada keadaan normal tidak menyebabkan nyeri. Sebagai contoh, kulit disekitar jari anda yang terpotong mungkin akan terasa sakit saat anda menyentuhnya, walaupun kulit tersebut tidak terluka.

Terkadang sinyal nyeri bahkan bisa meloncat secara bioelektrik dari satu saraf pembawa rangsang nyeri ke saraf lain didekatnya yang sebelumnya sudah bebas dari stimulasi. Ketika hal ini terjadi, jumlah sinyal nyeri yang dibawa ke otak akan menjadi semakin banyak. Apabila otak menerima sinyal-sinyal tersebut, area yang mengalami cedera akan semakin tersensitisasi dan hal ini akan kembali mempengaruhi siklus nyeri.

Apabila anda memiliki keinginan untuk menjaga system saraf anda dengan program yang komprehensif untuk  membangun kekuatan saraf anda, hal ini akan sangat sulit terjadi.   Satu alasan sederhananya adalah : ketika system saraf anda semakin sehat, lapisan yang menginsulasi saraf anda menjadi semakin tebal dan dan membantu mencegah terjadinya ‘kebocoran’ sinyal saraf.

Senjata ampuh lain yang dapat anda gunakan saat melakukan serangan balik adalah opiate yang menyerupai morphin – endorphin, dynorphin dan enkephalin yang diproduksi secara alami oleh tubuh anda. Zat-zat ini sepuluh kali lebih kuat dari morphin. Tetapi tubuh anda tidak akan membentuk toleransi terhadap zat-zat ini seperti yang pasti akan terjadi apabila anda mengkonsumsi obat-obatan.

Opioid alami ini tidak hanya berada di otak – memberikan kelegaan secara fisik dan psikologi – tetapi juga berjalan ke salah satu pintu gerbang nyeri yang berada di medulla spinalis anda. Disanalah mereka bertempur melawan zat P yang membawa sinyal nyeri, berusaha mencegah zat P memasuki saraf yang menuju ke otak.

Terkadang anda memiliki endorphin yang cukup untuk mengalahkan jumlah zat P dan menghentikan sinyal nyeri yang berusaha memasuki otak. Tetapi tidak jarang jumlah yang anda miliki tidak cukup untuk melakukannya. Apabila hal tersebut terjadi, nyeri akan semakin mudah masuk ke otak anda.

Sebagaimana yang dapat anda bayangkan, terdapat beberapa cara untuk meningkatkan pengeluaran endorphin dalam tubuh anda. Contohnya, anda dapat melakukannya dengan berolahraga. Tetapi biasanya orang yang mengalami nyeri kronik menghindari olah raga. Hal itu merupakan kesalahan – satu hal yang harus anda ubah bila anda menderita nyeri kronik.

Jika anda tidak memproduksi endorphin atau serotonin dalam jumlah yang cukup, sinyal nyeri akan semakin meningkat dalam intensitas, frekuensi dan durasi. Bila hal ini terjadi, sinyal-sinyal tersebut akan membuka lebar pintu masuk nyeri.

Kemudian nyeri dapat berjalan dengan bebas dari bagian yang cedera ke otak anda dan kembali lagi.

Sebagaimana hal ini terjadi berulang-ulang – jutaan kali setiap jam – sinyal nyeri menjadi tercetak di system saraf. Sinyal nyeri menjadi bagian yang tidak tertulis dari anatomi system saraf anda, sama seperti memory yang tercetak diotak anda.

Ketika cedera anda pulih, nyeri yang tercetak ini dapat tetap tinggal. Tidak lagi dibutuhkan stimuli untuk menyebabkan rasa nyeri. Tragisnya, nyeri menjadi memiliki kehidupan sendiri. Bila ini terjadi, nyeri tidak lagi menjadi gejala tetapi sebuah penyakit.

Sakitnya penyembuhan

Sekarang akan saya beritahu masalah lain yang anda hadapi.

Ketika otak melangsungkan serangan baliknya ke lokasi nyeri, otak juga melakukan serangan balik terhadap bagian yang cedera itu sendiri. Serangan balik ini umumnya dikenal sebagai proses penyembuhan. Sayangnya, proses penyembuhan ini dapat berkontribusi terhadap terjadinya penyakit nyeri kronik.

Proses penyembuhan berkontribusi terhadap nyeri melalui proses yang disebut dengan proses inflamasi atau peradangan.

Inflamasi adalah bagian alami dari respon tubuh anda terhadap cedera atau suatu injuri. Inflamasi dapat berada diluar kendali, ketika hal tersebut terjadi akan terjadi pula nyeri yang hebat.

Inflamasi dimulai ketika otak mengirimkan sinyal kembali ke area yang mengalami cedera. Sinyal-sinyal tersebut meningkatkan aliran darah ke area tersebut, sebagaimana tubuh anda harus melawan infeksi yang mungkin dapat terjadi dan memperbaiki kerusakan jaringan. Tetapi sejumlah darah dari aliran tersebut keluar dari pembuluh darah dan menyebabkan pembengkakan, ketidaknyamanan, kaku dan rasa hangat disekitar luka.  Darah juga melepaskan zat-zat kimia yang membuat area yang terluka menjadi semakin sensitive.

Normalnya, inflamasi menghilang ketika cedera sembuh. Tetapi bila nyeri tercetak di system saraf, inflamasi dapat menetap. Pada saat ini terjadi, inflamasi tidak lagi mempunyai tujuan, hanya menyebabkan rasa nyeri.

Inflamasi merupakan terdakwa utama dari berbagai macam rasa nyeri yang terjadi.

Terdapat banyak sekali cara efektif untuk melawan inflamasi. Anda dapat menggunakan obat anti-inflamasi seperti ibuprofen atau obat lainnya. Anda juga dapat menghentikan inflamasi sebelum terjadi dengan terapi nutrisi. Saya akan memeberitahukan anda bagaimana cara melakukannya nanti.

Satu hal lain yang menyebabkan proses penyembuhan terasa sakit adalah terjadinya spasme otot saat proses berlangsung. Spasme otot terjadi sebagai mekanisme perlindungan alami; melindungi area yang cedera dengan mengimobilisasinya. Hamper serupa dengan pemakaian splint.

Spasme otot dimulai saat tubuh mengalami nyeri. Bila hal ini terjadi, tubuh sering mengkontraksikan otot-otot yang berada disekitar area yang cedera. Secara bertahap, otot-otot tersebut akan tetap tegang atau terus spasme. Sebagian alasannya adalah karena spasme itu sendiri menyebabkan sakit. Olehkarenaya, sangat mudah untuk menciptkan siklus nyeri-spasme-nyeri-spasme..

Jika spasme-spasme ini diabaikan, mereka menjadi semakin permanen. Jaringan otot dapat seakan-akan menyatu satu sama lain.

Terkadang spasme otot yang terjadi sangat mudah diketahui dan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Ini terjadi ketika anda mengalami nyeri musculoskeletal kronik, termasuk nyeri punggung dan leher. Dilain waktu, spasme otot bersifat sangat ringan dan hanya dirasakan disedikit area. Spasme yang seperti ini dapat berbahaya. Satu masalah yang mereka timbulkan adalah ‘nyeri alih’ (referred pain) – nyeri yang terjadi dilokasi lain dari tempat dimana tempat spasme terjadi. Contohnya, spasme otot kecil dileher dapat menyebabkan sakit kepala hebat.

Untungnya, terdapat banyak sekali cara untuk menghilangkan spasme. Salah satu cara terbaik adalah masase, yang nanti akan saya bahas lebih lanjut.

Cara ketiga proses penyembuhan menyebabkan nyeri adalah ketika saraf penerima rangsang nyeri tidak sembuh sebagaimana mestinya.

Saat saraf nyeri yang rusak kembali sembuh dan tumbuh kembali, hal tersebut kadang tidak berjalan dengan sempurna dan mulai bertindak secara spontan, mengirimkan sinyal nyeri ke otak tanpa alasan sama sekali.

Seringkali orang-orang yang mengalami hal ini disalahkan karena ‘pura-pura’ sakit, karena secara kasat mata tidak tampak ada cedera sama sekali. Bahkan dokter berkata bahwa rasa sakit yang mereka rasakan hanyalah berada dipikiran mereka saja. Mereka diobati seperti mereka mengalami gangguan kejiwaan. Sangat tidak adil! Dan betapa bodohnya!

Pada kenyataannya, terdepat satu contoh nyata dari nyeri seperti ini : nyeri ‘phantom limb’. Lebih dari 85 persen dari orang-orang yang mengalami amputasi merasakan rasa nyeri yang berasal dari bagian tubuh mereka yang telah diamputasi. Dalam jenis amputasi tertentu, lebih dari sepertiga jumlah pasien merasakan nyeri ini dengan hebat. Rasa nyeri ini disebabkan oleh proses penyembuhan saraf yang sangat tidak sempurna.

Walaupun demikian tidak sempurnanya proses penyembuhan sel saraf bukanlah satu-satunya penyebab ‘phantom limb’. Nyeri phantom limb juga disebabkan oleh nyeri berkepanjangan yang terjadi atau dirasakan setelah pembedahan. Nyeri ini, jika memorinya tercetak disistem syaraf, dapat muncul bahkan setelah penyebab nyeri telah dibuang melalui pembedahan.

Berikut adalah ilustrasi menarik lain mengenai proses tercetaknya nyeri di system syaraf, termasuk di otak sendiri. Terkadang orang yang lumpuh merasakan nyeri dibagian tubuh mereka yang sebenarnya sudah tidak dapat lagi bergerak atau menerima stimulus dan merespon terhadap rangsangan dari luar. Jika ini terjadi, dokter umumnya akan memotong sebagian dari spinal cords pasien untuk menghilangkan nyeri tersebut. Tetapi hal ini sangat jarang dilakukan. Bagi orang yang mengalami kelumpuhan atau post amputasi, nyeri yang dirasakan tidak berasal dari dalam tubuh mereka, tetapi berasal dari otak mereka.

Saya akan memberikan sebuah contoh yang menarik mengenai nyeri kronik yang dapat ‘tersentral’ di otak. Mungkin anda pernah mendengar bahwa sangatlah mungkin untuk membuat seseorang memiliki ingatan yang tajam mengenai masa lalu mereka dengan cara memberikan stimuli menggunakan elektroda pada area otak yang berbeda. Saat ini terjadi, memori-memori kembali bermunculan dengan sangat jelas. Setelah mengetahui fenomena ini, para peneliti nyeri mencoba untuk membangkitkan rasa nyeri dengan memberikan stimulus listrik pada bagian otak yang pertama kali menerima sinyal nyeri- thalamus. Para peneliti tersebut menemukan bahwa subjek penelitian yang tidak memiliki riwayat nyeri kronik tidak terpengaruh oleh stimulus yang diberikan di thalamus. Tetapi, ketika peneliti melakukannya pada subjek yang memiliki riwayat nyeri kronik, subjek penelitian tersebut merasakan nyeri yang sangat hebat. Contohnya, seorang pasien yang pernah mengalami angina pectoris melaporkan rasa nyeri yang sangat hebat di dadanya ketika thalamusnya sedang diberikan stimulus.

Sehingga, pasien tersebut mengetahui bahwa, baginya dan orang-orang lain yang memiliki nyeri kronik, nyeri yang dirasakan berasal dari otak.

Otak Dapat Menghentikan Rasa Nyeri

Seperti yang telah saya sampaikan, salah satu cara terbaik untuk menghentikan rasa nyeri adalah dengan meningkatkan kekuatan otak. Prinsip sederhana ini saya singkapkan segera setelah saya mempublikasikan buku pertama saya, Brain Longevity. Dalam buku tersebut, saya memberitahukan kepada para pembaca cara untuk mengoptimalkan kekuatan otak mereka – tetapi saya sama sekali tidak memberitahukan bagaimana cara menggunakan otak untuk mengalahkan rasa nyeri. Sebelum saya melanjutkan, saya minta anda untuk membaca dengan cermat korespondensi saya melalui surat dengan seorang pasien dibawah ini.

Augustus 20, 1998
Hartford, CT
Kepada Dr. Khalsa,

Saya baru saja selesai membaca buku anda Brain Longevity. Buku tersebut telah memberikan saya harapan.   Saya baru saja didiagnosa menderita sebuah penyakit yang bentuknya menyerupai dystonia yang disebut spasmodic torticollis, suatu kondisi yang menyebabkan terputarnya leher dan menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat.

Saya di injeksi botulinum toxin sebanyak 2 kali, tetapi tidak memberikan perubahan sama sekali. Ahli syaraf saya sekarang memberikan Tetrabenazine, tetapi sepertinya tidak banyak menolong. Saya berusia 38 tahun, sangat aktif dan mempunyai dua anak perempuan. Ahli syaraf saya telah banyak memberikan obat tetapi sepertinya obat tersebut tidak menyembuhkan.

Saya telah memulai program Brain Longevity anda. Walaupun saya tidak dapat berpikir secara scientific, tetapi menurut saya upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kerja otak sangat masuk akal.  Masalah nutrisi dapat saya atasi dengan mudah, tetapi berolah raga sangat sulit, karena saya tidak bisa menahan kepala saya dengan tegak.

Walaupun demikian saya terus berupaya, dan saya sangat ingin mengetahui dari anda apakah ada kesempatan bagi saya untuk sembuh dari kondisi ini.

Hormat saya,
J.M.

Saya membalas surat wanita tersebut, ia telah menderita penyakit syaraf yang cukup berat dan tidak berespon terhadap pengobatan, memberikan dukungan kepadanya untuk terus menjalankan program Brain Longevity yang dijalaninya. Saya menyarankan kepadanya untuk melakukan latihan ‘mind/body exercises’ dan menemui seorang ahli akupuntur, serta mengikuti program lain yang komprehensif dengan program yang sedang dijalaninya saat ini, terutama untuk meningkatkan kerja otak.

Beberapa bulan kemudian saya menerima surat darinya.

Oktober 19, 1998
Hartford, CT
Kepada Dr. Khalsa,

Semua gejala saya telah hilang! Dokter ahli syaraf saya telah menyerah karena obat-obatan yang diberikannya tidak memberikan efek apapun. Saya kemudian memutuskan untuk melakukannya sendiri, dengan cara yang holistic. Saya telah berhasil melakukannya dan inspirasi saya berasal dari anda. Saya sangat berterimakasi. Saya kembali mengkonsumsi vitamin dan supplement seperti yang anda sarankan. Saya juga melakukan latihan ‘mind/body exercises’, meditasi, yoga, nutrisi sehat dan berolahraga.

Sekali lagi terima kasih banyak.
Hormat saya,
J.M.

Kasus ini memberikan ilustrasi bahwa otak dapat memberikan efek yang berbeda dari seharusnya, ketika mengalami kondisi nyeri yang tidak dapat dihindarkan, bahkan tanpa menjalani pengobatan nyeri.

Lebih jauh lagi, ketika kekuatan otak bersatu dengan kekuatan tubuh dan kekuatan jiwa (dalam sebuah program penanganan nyeri yang komprehensif) segalanya menjadi mungkin terjadi!

Sekarang anda sudah memiliki pemahaman dasar mengenai bagaimana nyeri bekerja dan bagaimana nyeri kronik dimulai.

Sehingga, anda kini mengerti, bahkan mungkin lebih dari seorang dokter, mengapa ciri-ciri sindrom nyeri kronik sangatlah membuat menderita.

Sindrom nyeri kronik dikarakteristikan dengan ketidakmampuan melakukan aktivitas, kekurangan tidur, depresi, kurang nutrisi, takut, cemas, ketergantungan terhadap obat, dan lethargy. Ciri-ciri ini akan selalu dikaitkan dan bersatu dengan sinyal nyeri yang telah tercetak di system syaraf.

Jika saat ini anda sedang menderita nyeri kronik, saya dapat pastikan mengapa anda mengalami gejala-gejala tersebut diatas. Lagipula, rasa nyeri akan benar-benar menjatuhkan anda, membuat anda merasa tersiksa, menguras tenaga anda dan menggerogoti semangat hidup anda.

Tetapi sekarang anda sudah memiliki pegangan yang lebih baik dan sudah memahami bagaimana nyeri kronik dapat terjadi dan berkelanjutan, anda dapat mengatakan bahwa karakteristik dari sindrom nyeri kronik merupakan racun bagi system syaraf. Mereka mengurangi kemampuan alami dari system syaraf untuk menolak rasa nyeri. Mereka juga menyebabkan otak berfokus pada nyeri sehingga meningkatkan intensitas dan frekuensi sinyal nyeri.  Selain bersifat ‘racun’ bagi system syaraf, karakteristik nyeri tersebut juga merampas sebagian besar dari sukacita yang dapat dirasakan dalam hidup; kepuasan bermain, kepuasan bekerja, serta perasaan mencintai dan dicintai.

Kehilangan rasa sukacita ini tidak hanya menyeramkan tetapi juga berkontribusi terhadap siklus nyeri. Kurangnya perasaan sukacita, kepuasan dan perasaan cinta akan menyebabkan anda semakin berfokus pada rasa nyeri yang anda alami dan sampai akhir hidup anda hanya perasaan nyeri inilah yang tersisa.

Hasil akhirnya adalah penderitaan

Jika anda telah menderita untuk waktu yang lama, anda mungkin akan mulai percaya bahwa satu-satunya jalan keluar bagi anda adalah kematian.

Hal itulah yang dipikirkan oleh pasien saya, Scott. Tetapi ia salah .

Scott Melakukan Perlawanan

Saya dan Scott berbincang-bincang mengenai fisiologi nyeri kronik dan kami mendiskusikan mengenai kemungkinan penyebab nyeri kronik yang dialaminya.

Ia mengalami “autoimmune” disorder; hal itu menyebabkan kerusakan otot dan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Segera setelah ia mengalami penyakit tersebut, persepsi nyeri pada ototnya telah tercetak di system syarafnya sebagai memori. Ia selalu merasakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. Ototnya mengecil dan ia menjadi sangat kurus.

Scott sangat ingin berhenti dari pengobatan yang sedang dijalaninya, termasuk berhenti meminum prednisone, suatu steroid yang menekan system imun dan menghambat serangan autoimun yang dialaminya. Scott mengalami beberapa efek samping dari prednisone; jerawat, perasaan panas, insomnia dan agitasi. Perasaan bencinya terhadap efek samping pengobatannya sama besar dengan nyeri yang dirasakannya.

Tetapi dokter ahli syarafnya memberitahu kepadanya jika ia berhenti mengkonsumsi prednisone, penyakitnya akan menjadi lebih buruk dan rasa sakit yang ia alami akan lebih hebat.

Hal tersebut juga dapat membunuhnya, lebih cepat dari yang diperkirakan. Saya bertanya mengenai perasaannya terhadap hal tersebut pada saat itu.

“Saya akan menerima kemungkinan tersebut”jawabnya. Matanya terlihat sembab dan penuh penyesalan. Warna kulitnya sangat pucat dan tubuhnya seakan telah menciut, ia terlihat sangat kelelahan, baik fisik maupun emosional.

“Menurut dokter anda, bagaimana perkembangan penyakit anda?” saya bertanya kepadanya.

“seorang perawat secara rutin dating kerumah saya untuk memeriksa kadar CPK saya” katanya. Ia menceritakan tentang kadar enzim creatine phosphokinase tubuhnya, suatu enzim yang memecah jaringan otot. Semakin tinggi kadarnya, semakin besar kemungkinan ia mendekati kematian. “Perawat saya adalah bagian dari hospice program,” katanya dengan nada sedih. Hospice program adalah suatu program perawatan bagi pasien terminal yang mungkin hanya memiliki kemungkinan hidup beberapa minggu atau beberapa bulan dan dilakukan dirumah pasien.

“Anda sebaiknya mengurangi secara bertahap prednisone yang anda minum” jawab saya, “anda bisa meninggal karena menghentikannya secara mendadak”.

“bila anda telah mulai mengurangi prednisone, anda akan membutuhkan obat anti nyeri lain yang lebih agresif, karena rasa nyeri yang anda rasakan akan meningkat secara dramatis.”

Ia menganggukan kepalanya dengan tenang.

Saya membaca catatan medisnya. “Anda juga meminum tranquilizer?” “Xanax, lithium, dan Ambien,” jawabnya.

Xanax adalah tranquilizer minor, lebih seperti  Valium, dan Ambien adalah obat tidur. Lithium umumnya digunakan untuk mengatasi bipolar disorder, atau manic depression, yang sebenarnya tidak diderita oleh Scott. Xanax dan lithium tidak tepat diberikan kepada pasien dengan nyeri kronik. Dengan persetujuan Scott, saya menghentikan kedua pengobatan tersebut dan menggantikannya dengan pengobatan nyeri lain yang lebih maksimal. Ia mulai melakukan banyak perubahan dalam hidupnya. Walaupun sebelumnya ia diberitahu bahwa ia sedang sekarat, ia tetap berpartisipasi dengan antusias. Saya sangat mengaguminya, bagi beberapa orang semangat kehidupan yang ia miliki tidak pernah dapat dikalahkan.

Ini adalah gambaran singkat dari program yang dijalani oleh Scott:

Nutritional therapy. Scott memulai dengan memaksa dirinya untuk makan secara teratur dan berhati-hati. Saya merubah dietnya menjadi gandum, sayur-sayuran, produk makanan tinggi protein kacang-kacangan dan ikan, ini dilakukan bukan hanya untuk memberikan nutrisi bagi system syarafnya tetapi juga untuk meningkatkan kesehatannya secara umum.   Ia memakan makanan yang menstimulus produksi serotonin yang menenangkan persyarafan, ia juga meminum suplemen yang dapat meningkatkan regenerasi sel-sel syaraf. Sebagai tambahan, ia juga mengkonsumsi nutrisi yang mengandung zat anti-inflamasi secara teratur.

Physical therapies. Scott menjalani therapy pemijatan (massage therapy), dan yoga (mind/body exercises). Ia juga melakukan pekerjaan rumah ringan disekitar rumahnya dan berjalan santai, hal ini membantunya untuk merehabilitasi kondisi kardiovaskulernya.

Olahraga kardiovaskuer yang ringan ini telah meningkatkan stimulasi produksi endorphin dan memberikan asupan darah yang penuh dengan oksigen dan nutrient bagi ototnya yang bermasalah.

Regangan dan pemijitan meringankan nyeri ototnya, dan membantu system syarafnya untuk ‘melupakan’ pola nyeri yang telah tercetak sebelumnya.

Mind/body exercises yang ia lakukan menstimulasi otaknya dan memberikan energy bagi area system syarafnya yang membantunya untuk mengendalikan rasa nyeri.

Pengobatan. Hal ini mungkin komponen yang terpenting dari keseluruhan program yang Scott jalani, karena tujuan utamanya adalah untuk menghentikan penggunaan obat-obat farmasitekal. Keinginan Scott untuk menghentikan ketergantungannya terhadap obat-obatan tidak seluruhnya dapat dilakukan dan dipandang sebagai hal yang tidak umum dilakukan. Disebuah klinik nyeri terkemuka di Amerika, tujuan utama dari seorang dokter ketika bertemu dengan pasiennya adalah mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan. Pengobatan farmasitekal memang mempunyai peran positif dalam manajemen nyeri, tetapi mereka tidak menyelesaikan masalah, walaupun banyak sekali praktisi yang percaya bahwa mereka dapat menyembuhkan.

Setelah delapan belas bulan, Scott berhenti mengkonsumsi prednisone secara bertahap dan menghentikan penggunaan obat-obat tranquilizer.

Ia menggantikan pengobatan farmasitekalnya dengan pengobatan alami yang lebih ringan, termasuk resep-resep homeopathic dan jamu-jamuan untuk menghilangkan nyeri.

Saya sangat khawatir ia akan merasakan nyeri yang hebat dan kemungkinan rasa nyeri tersebut tidak dapat diatasi setelah ia menghentikan penggunaan prednisone, tetapi hal ini tidak terjadi.  Obat-obat alami dikombinasikan dengan elemen lain dalam programnya telah memberikan hasil yang baik baginya.

Pain control Mental dan Spiritual

Pain control Mental dan Spiritual . Untuk meningkatkan kemampuannya mengurangi sinyal nyeri, Scott mulai mengkronfrontasikan perasaan marahnya dan rasa tidak berdaya yang ia rasakan. Emosi yang bersifat negative ini meningkatkan persepsinya terhadap nyeri dan mengurangi kemampuan otaknya untuk menerima sinyal nyeri.

Scott dibesarkan oleh seorang ayah yang membuatnya percaya bahwa ia tidak berhak merasa bahagia dan tidak akan pernah merasa bahagia seumur hidupnya.  Scott telah menerima paham ini, dan  merasakan amarah terhadap ayahnya. Untuk mengatasi rasa benci terhadap diri sendiri dan amarahnya, ia menggunakan beberapa metode ‘cognitive therapy’, sebuah bentuk  psychotherapy yang berlandaskan pada ‘rationality’ yang umumnya cukup membantu pasien-pasien yang mengalami nyeri. Bersamaan dengan berkurangnya amarah dalam dirinya, Scott menjadi lebih tenang, baik secara fisik maupun emosional.  Hal ini mengurangi persepsinya terhadap nyeri, meningkatkan kemampuannya untuk menerima nyeri dan meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengalihkan rasa nyerinya.

Saya juga mengajarkan Scott tehnik meditasi, dan meditasi ini telah menolongnya untuk melihat lebih dalam dirinya dan melepaskan banyak sekali energi emosional yang menyebabkan peningkatan rasa nyerinya.

Hal lain yang mendukung psychological therapy yang ia jalani adalah mencari kedamaian spiritual. Ia memulai pencariaannya dengan bertanya pada dirinya sendiri, “mengapa saya?”

Ini merupakan hal yang paling mendasar dari semua pertanyaan-pertanyaan spiritual mengenai penderitaan, karena mencari tahu makna keberadaan diri merupakan hal yang sangat penting bagi spiritual.

Ketika pasien pertama kali mendapatkan pertanyaan ini, mereka biasanya memberikan jawaban yang bersifat negative; mereka berasumsi bahwa mereka mungkin telah melakukan hal yang buruk atau melakukan kesalahan, atau terdapat sesuatu hal yang salah secara intrinsik didalam dirinya.

Ada kalanya hal ini benar, dan apapun kesalahan itu, hal tersebut harus diperbaiki. Tetapi jawaban yang negative itu terkadang belum berupa jawaban yang seutuhnya. Umumnya juga terdapat elemen yang positif terhadap nyeri.  Sebagai contohnya, bagi banyak orang, nyeri merupakan kekuatan yang cukup kuat dan membuat mereka kembali benar-benar menjalani hidup.

Ketika para pasien menemukan makna yang positif terhadap nyeri yang mereka alami, secara tidak disadari nyeri yang mereka alami berangsur membaik. Hal tersebut mengurangi respon stress mereka, meningkatkan kekuatan pikiran mereka untuk melawan rasa nyeri. Terkadang hal itu juga memampukan mereka memandang rasa nyeri sebagai hal yang biasa saja dan membantu mereka melupakan rasa nyeri tersebut.

Scott menemukan makna yang positif terhadap rasa nyerinya. Ia akhirnya mengetahui bahwa ia dapat menggunakan rasa nyerinya untuk mengetahui kebenaran yang universal, dan mendapatkan pemahaman yang lebih besar.  Dari studi mendalam yang dilakukan mengenai spiritual literature, ia mempelajari bahwa banyak orang-orang suci yang mengalami rasa penderitaan yang hebat, tetapi sebenarnya mereka membutuhkan penderitaan tersebut untuk mencapai kehidupan yang lebih memiliki makna. Mereka telah menjadi role model bagi Scott.

Setelah Scott menemukan makna yang positif dari rasa nyeri yang dialaminya, ia tidak pernah lagi merasakan penderitaan akibat rasa nyerinya.  Saat ia menyadari bahwa banyak hal baik yang terjadi karena penyakitnya, ia mulai melihatnya sebagai tantangan bukan kutukan.

Bagi Scott, titik balik dari eksplorasi spiritualnya adalah ketika ia ‘menyerah’ dan menyerahkan diri kepada kenyataan bahwa cepat atau lambat ia akan meninggal. Ketika hal ini terjadi, ia berkata pada saya, “sekarang saya telah menyerah, saya merasa bahwa saya telah menerima segalanya”.  Dengan berkata demikian bukan berarti ia telah memiliki semacam ‘tiket’ untuk hidup abadi. Ia benar-benar mengatakannya karena ia telah mengalami keadaan dimana ia percaya bahwa hidup tidak pernah memiliki ujung.

Efek lain dari perkembangan spiritual Scott adalah ia mampu mengembangkan kedamaian yang kokoh dalam dirinya. Kondisi ini sangat memberikan dampak yang positif bagi manifestasi fisiknya. Salah satunya adalah peningkatan ambang nyerinya. Ia juga menjadi lebih bersemangat dan tidak lagi terlihat menderita seperti dulu, ia seperti seseorang yang benar-benar mengenal dan mengetahui hidup dan dirinya. Perubahan yang terjadi pada Scott benar-benar dramatis.

Seperti yang anda bisa lihat sendiri, tidak ada hal yang dapat membahayakan dalam menjalankan program penyembuhan nyeri yang telah dilakukan Scott; isi dari program ini hanyalah kombinasi yang baik dari pengobatan, akal sehat dan usaha serta kerja keras yang dilakukan oleh Scott.

Setelah kurang lebih enam bulan menjalani program ini, Scott menelpon saya dan berkata bahwa ia baru saja menemui dokter ahli jantungnya. Ia berkata bahwa ada sesuatu yang harus ia bicarakan mengenai kadar CPKnya.

Setelah menerima telepon darinya, saya segera merasakan mual dan sakit pada perut saya. Jika kadar CPK Scott meningkat, itu berarti otot jantungnya berada dalam keadaan bahaya, ia bisa saja mengalami gagal jantung mendadak.

Bab Akhir

Setelah Scott tiba, saya segera bertanya, “apa yang dokter itu katakan padamu?”, saya sangat gugup dan khawatir. Saya tahu bahwa banyak dokter yang bisa menjaga jarak dengan pasien dan mampu untuk tidak terlibat secara emosional dengan pasien, tetapi saya tidak pernah bisa memahami mengapa mereka melakukan hal itu.

“Dokter berkata bahwa kadar CPK saya menurun, sangat turun, bahkan seperti normal” Scott berkata dan menyunggingkan senyumnya kepada saya.

Saya sangat senang mendengarnya. Scott melanjutkan, “Dokter berkata bahwa apapun yang telah ataupun yang sedang saya lakukan yang menyebabkan hal ini terjadi merupakan hal yang baik, dan ia menginginkan saya untuk terus melakukannya”

“Bagaimana rasa nyerimu?”Tanya saya.

“Baik. Saya sudah tidak terlalu merasakannya. Bahkan saya tidak memikirkannya lagi. Walaupun sesekali rasa nyeri itu masih ada, tetapi, rasa nyeri bukanlah segalanya dan tentu saja tidak akan mengakhiri segalanya. Apakah saya sudah memberitahu bahwa saya sudah kembali bekerja?” pembicaraan kamipun dilanjutkan dengan mendiskusikan mengenali pekerjaannya. Ia tampak sangat senang, hingga saya harus kembali mengarahkan pembicaraan kami mengenai kondisi kesehatannya.

“Jadi anda masih merasakan sakit sesekali? ” Tanya saya.

“Ya, tapi kini saya sudah tahu beberapa cara untuk mengatasinya”Jawabnya.

“Apakah sulit?”Tanya saya.

“Tentu saja. Terkadang bahkan lebih sulit daripada merasakan sakitnya. Saya harus banyak sekali melakukan perubahan, diet, kebiasaan. Saya harus menerima kenyataan bahwa selama empat puluh dua tahun saya telah melakukan cara yang salah dan lihatlah hasilnya..”

“Tetapi setelah melakukan banyak perubahan, saya benar-benar merasa mendapatkan berkah”. Jawabnya. “Semakin besar perubahan yang anda lakukan dalam hidup, semakin besar penyembuhan yang anda dapatkan”.

Hal ini terjadi tiga tahun yang lalu.

Scott masih menjalani hari-harinya dengan penyakitnya sampai dengan saat ini. Tetapi ia telah mengubah hidupnya, jiwa dan raga, dan setelah ia melakukannya, system imunnya berhenti menghancurkan dirinya sebagaimana yang terjadi ketika ia pertama kali terserang penyakit tersebut.

Sebagaimana telah saya sampaikan, tubuh mempunyai semacam kekuatan hebat yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Tetapi tidak seorangpun dapat mengendalikannya karena ia hanya dapat mengerjakan tugasnya tanpa perintah.

Ketika terakhir kali saya bertemu lagi dengan  Scott, saya berkata padanya, “Saya sangat bangga padamu”. Ia benar-benar telah mencintai kehidupan dan penyakit dan rasa nyeri tidak lagi menjadi hal besar baginya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: